sebagai seorang suami, mencari nafkah merupakan suatu
kewajiban.
tetapi, membimbing keluarga juga merupakan suatu kewajiban.
tetapi, membimbing keluarga juga merupakan suatu kewajiban.
Pilih mana? Antara
penghasilan besar jauh di luar pulau, atau penghasilan cukup tapi dekat dengan
keluarga.
kalo
saya pribadi, saya memilih untuk penghasilan besar tapi dekat dengan keluarga.
Yap,
memang terdengar serakah kelihatannya, tapi inilah keputusan yang saya ambil.
Bagaimana caranya?
Agar
lebih akrab, saya akan perkenalkan diri saya terlebih dahulu, nama saya Mohamad
Ibnu Risqi Ramdani, biasa dipanggil dengan sebutan Pipih Ayra kalo di rumah.
Hehehe
Saya
merupakan suami dari seorang bidadari bernama Nur Khikmatul Musthafa yang saya
kenal kurang lebih sejak 10 tahun yang lalu. Kami berpacaran sejak saya SMA
kelas 3. Delapan tahun berpacaran, tidaklah waktu yang sebentar bagi kami.
Waktu
saya Kelas 3, dia kelas 2. Sya kuliah di Universitas Diponegoro Semarang, dia
SMA kelas 3, Saya semester 3, dia melanjutkan kuliah di Universitas Sebelas
Maret Surakarta. Lima tahun LDR tidak lah mudah bagi kami.
Di
tahun 2013 akhir, ketika saya Lulus dari Public Relations FISIP UNDIP, banyak
sekali tawaran pekerjaan yang menggiurkan yang menawarkan penghasilan besar
tetapi jauh di luar sana.
Dahulu saya mempunyai cita-cita ingin
menjadi wirausaha, tapi bagaimana dengan modal?
Dalam
pikiran saya saat sudah lulus kuliah, saya hanya berfikir masalah modal. Ada 2
pilihan saat itu, yang pertama : menjadi wirausaha dengan modal sedikit tapi
banyak resiko, Kedua : menjadi pegeawai tetap dan bisa meminjam uang untuk
modal menjadi wirausaha.
Disaat
itu pula saya menambahkan cita-cita saya menjadi wirausaha tapi dengan status
pegawai tetap di PNS atau di BUMN.
Ketika
lulus di bulan Agustus 2013, saya melamar PNS dan BUMN dan alhamdulillah saya
lulus di BUMN dan PNS. Benar kata Buku “The
Secret” yang pernah saya baca dimana ada hukum yang baru pertama kali saya
dengar yaitu “The Law of Attractions”.
Semangat ya.
ReplyDelete